Biaya Naik Haji ONH Plus Primasaidah

Biaya Naik ONH plus Biro penyelenggara dan pelayanan Travel Haji Khusus/Plus kuota Depag Ri dan Umrah dengan biaya-harga murah Online di Jakarta Rahmatan Lilalamin Primasaidah PT.Happy prima Wisata menerima pendaftaran Haji ONH Plus dan Umrah Reguler, Umrah Khusus bersama mamah dedeh - Ust.Jefri Al-Bukhari (UJE) dan Umrah Plus Kairo Dubai turki/Istanbul Eropa.

Tampilkan postingan dengan label artikel haji umrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel haji umrah. Tampilkan semua postingan

Ibadah Haji Buat memperbaiki diri Bukan buat Pamer

ibadah haji buat pamer
Kaum muslimin, ibadah haji merupakan madrasah yang dipenuhi berkah, media pembelajaran untuk melatih jiwa, menyucikan hati, dan memperkuat iman. Kaum muslimin akan menjumpai berbagai pelajaran dan faedah yang terkait dengan akidah, ibadah, dan akhlak di tengah-tengah pelaksanaan haji mereka.

Dapat dipastikan, bahwa ibadah haji merupakan madrasah pendidikan keimanan dimana lulusannya adalah para hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, mereka yang mereguk manfaat dari ibadah tersebut adalah para hamba Allah yang diberi taufik oleh-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (٢٧)لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ (٢٨)


“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” (Al Hajj: 27-28).

Berbagai manfaat, faedah, dan pelajaran berharga yang terdapat dalam ibadah haji tidak mungkin untuk dihitung, karena sebagaimana di dalam ayat di atas, Allah berfirman dengan kata “مَنَافِعَ” yang merupakan bentuk plural dari kata “منفعة” yang disebutkan secara indefinitif (nakirah) sehingga mengisyaratkan betapa banyak dan beragam manfaat yang akan diperoleh dari ibadah haji.

Tujuan ibadah haji ini adalah agar berbagai manfaat tersebut diperoleh oleh mereka yang melaksanakannya, karena huruf lam pada firman-Nya “لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ” berfungsi untuk menerangkan alasan yang terkait dengan firman-Nya yang sebelumnya, yaitu ayat “وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ”, sehingga redaksi ayat tersebut bermakna, “(Wahai Muhammad), jika engkau menyeru mereka untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu, baik dengan berjalan kaki dan berkendara untuk memperoleh berbagai manfaat haji.”

Oleh karena itu, mereka yang diberi taufik untuk melaksanakan ibadah ini hendaklah bersemangat dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh manfaat tersebut, di samping dirinya akan memperoleh pahala yang besar dan pengampunan dosa dari Allah ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ


“Barangsiapa yang berhaji di rumah ini, kemudian tidak berbuat keji dan maksiat, niscaya dia akan kembali dalam kondisi seperti tatkala dirinya dilahirkan oleh ibunya (tidak memiliko dosa apapun).”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ


“Laksanakanlah haji dan umrah, karena keduanya menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat dari besi.”
Tentunya, seorang yang memperoleh keuntungan ini kembali ke negaranya dengan kondisi yang suci, jiwa yang bersih, dan kehidupan baru yang dipenuhi dengan cahaya iman dan takwa, penuh dengan kebaikan, keshalihan, serta berkomitmen dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala.

Ulama telah menyebutkan bahwa apabila keshalihan dan kesucian jiwa ini terdapat dalam diri hamba, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa Allah telah ridha kepadanya dan ciri bahwa amalannya telah diterima oleh-Nya. Apabila kondisi seorang yang telah melaksanakan haji menjadi baik, dengan berpindah dari kondisi yang buruk menjadi baik, atau dari kondisi baik menjadi lebih baik, maka hal ini merupakan tanda bahwa hajinya bermanfaat, karena balasan dari suatu kebaikan adalah tumbuhnya kebaikan sesudah kebaikan yang pertama sebagaimana firman Allah ta’ala,

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠)


“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahman: 60).

Dengan demikian, barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji dengan baik dan bersungguh-sungguh menyempurnakannya, serta menjauhi berbagai hal yang mampu membatalkan dan mengurangi pahala berhaji, tentulah dia akan keluar dari madrasah tersebut dengan kondisi yang lebih baik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ


“Tiada balasan bagi haji mabrur melainkan surga.”
Tentu setiap orang yang berhaji ingin dan berharap ibadah haji yang dikerjakannya menjadi haji yang mabrur dan segala upaya yang dikerahkannya mendapat pahala dan diterima di sisi-Nya. Tanda yang jelas bahwa ibadah haji yang dikerjakan mabrur dan diterima adalah ibadah haji tersebut  dilaksanakan ikhlas mengharap Wajah Allah ta’ala dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua syarat ini merupakan syarat mutlak agar suatu amal ibadah diterima di sisi-Nya, di samping itu (keduanya harus ditunjang dengan tanda yang lain, yaitu) kondisi seorang yang berhaji menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Dengan demikian terdapat dua tanda yang menjadi ciri bahwa ibadah haji yang dikerjakan diterima di sisi-Nya. Pertama, tanda yang terdapat di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji, yaitu orang yang berhaji melaksanakannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, tanda yang muncul setelah ibadah haji dikerjakan, yaitu tumbuhnya keshalihan pada diri orang yang telah berhaji, yang ditandai dengan bertambahnya ketaatan dan semakin jauhnya dia dari kemaksiatan dan dosa. Dia memulai kehidupan yang baik, kehidupan yang dipenuhi dengan keshalihan dan istiqamah.

Patut diperhatikan bahwa seorang muslim tidak boleh memastikan bahwa amalnya telah diterima oleh Allah, meski dia telah mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Allah ta’ala telah menjelaskan kondisi orang-orang yang memiliki keimanan yang sempurna perihal amal ketaatan yang mereka kerjakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya,


وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (٦٠)


“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mukminun: 60).

Maksud dari ayat di atas adalah mereka telah mengerjakan ibadah yang diperintahkan kepada mereka berupa shalat, zakat, puasa ,haji dan selainnya, namun mereka merasa takut tatkala amalan tersebut dihadapkan kepada Allah dan tatkala mereka berdiri di hadapan Allah, ternyata amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dan ketaatan yang telah dilakukan tidak diterima oleh-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah rdah, bahwa dia berkata,

“Aku berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut “, “Apakah yang dimaksud adalah pria yang berzina dan meminum khamr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putrid Abu Bakr” atau “Tidak, wahai putrid Ash Shiddiq, akan tetapi dia adalah pria yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, akan tetapi dia takut amalannya tersebut tidak diterima oleh Allah ta’ala.”[4]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,


إن المؤمن جمع إحسانا وشفقة ، وإن المنافق جمع إساءة وأمنا


“Sesungguhnya seorang mukmin mengumpulkan amal kebaikan dan rasa takut sedangkan seorang munafik menggabungkan amal keburukan dan rasa aman.”[5]

Telah menjadi kebiasaan kaum mukminin sejak dahulu hingga saat ini tatkala selesai melaksanakan ibadah ini mereka saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Mereka semua mengharapkan amalan mereka diterima.[6] Allah pun telah menyebutkan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa nabi Ibrahim dan anaknya Isma’il a.s., tatkala mereka berdua selesai mengerjakan pndasi Ka’bah, keduanya berdo’a kepada-Nya  dengan ucapan

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١٢٧)


“Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 127).

Mereka tetap mengucapkannya, padahal mereka telah menunaikan sebuah amal shalih yang agung, meski demikian mereka memohon kepada Allah agar sudi menerima amal mereka berdua tersebut.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Wuhaib ibnul Ward, bahwa ketika dia selesai membaca ayat ini, dirinya menangis, dan berkata,

يا خليل الرحمن، ترفع قوائم بيت الرحمن وأنت مُشْفق أن لا يتقبل منك


“Wahai kekasih Ar Rahman, engkau telah membangun pondasi rumah Ar Rahman, namun engkau masih saja takut amalan tersebut tidak diterima.”[7]

Jika kondisi pemimpin kaum yang hanif dan teladan bagi kaum yang bertauhid sedemikian rupa, maka bagaimanakah kiranya kondisi yang harus dimiliki oleh orang yang derajatnya di bawah beliau?

Kami memohon kepada Allah agar menerima seluruh amalan kaum muslimin, memberikan taufik dan hidayah kepada kita, menetapkan keselamatan dan perlindungan bagi mereka yang berhaji, menerima amalan shalih kita, dan memberi petunjuk kepada kita semua agar menempuh jalan yang lurus.

Demikianlah artikel kami yang berjudul Ibadah haji bukan Buat ajang pamer tapi buat memperbaiki diri semoga bermanfaat amien
Harga Turun Pelayanan Harus Naik

Harga Turun Pelayanan Harus Naik

Menteri Agama Suryadharma Ali menjamin penurunan biaya penyelenggaraan ibadah haji 2013 yang disepakati DPR RI pada 1 April 2013, tidak akan mengubah kualitas pelayanan terhadap jamaah haji Indonesia.

"Turunnya Ongkos Naik Haji tidak berarti turunnya kualitas pelayanan haji. Ini menjadi perhatian kami. Kualitas tidak boleh turun," kata Suryadharma Ali dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (2/4).

Menteri Agama mengatakan berdasarkan pembahasan dengan DPR RI, diputuskan penurunan biaya penyelenggaraan ibadah haji 2013 dari rata-rata 3.617 dolar AS pada 2012 menjadi rata-rata 3.527 dolar AS. "Ini turun rata-rata sebesar 90 dolar AS dibandingkan BPIH pada 2012," tuturnya.

Menurut dia biaya rata-rata itu diambil dari BPIH dari 12 embarkasi yang ada dengan berbagai variasi biayanya.
Seperti embarkasi Banda Aceh pada 2013 BPIH yang dikenakan sejumlah 3.253 dolar AS, Medan 3.267 dolar AS, Batam 3.357 dolar AS, Padang 3.329 dolar AS, Palembang 3.381 dolar AS, Jakarta 3.522 dolar AS, Surabaya 3.616 dolar AS dan Lombok 3.582 dolar AS.

Penurunan biaya BPIH 2013 dibandingkan 2012 bervariasi untuk sejumlah daerah, meski secara nasional rata-rata 90 dolar AS.

"Seperti di Jakarta pada 2013 BPIH 3.522 dolar AS dibandingkan 2012 ada penurunan 116 dolar AS. Seperti untuk Surabaya pada 2013 sebesar 3.619 dolar AS dan pada 2012 sebesar 3.738 dolar AS, ada penurunan 119 dolar AS," papar Menteri Agama.

Lebih lanjut Suryadharma Ali mengatakan keputusan DPR RI ini menunjukkan adanya peningkatan subsidi kepada jamaah haji Indonesia.

Subsidi tersebut, kata menag, anggarannya berasal dari setoran awal yang jamaah simpan di Kementerian Agama yang kemudian menghasilkan manfaat atau bunga dalam istilah perbankan konvensional.

"Pada 2010 subsidi yang diberikan sebesar Rp 7,6 juta, pada 2011 sebesar Rp 11 juta atau 19 persen dari total BPIH yang harus dibayar saat itu, pada 2012 sebesar Rp 12,9 juta atau 21 persen dari BPIH yang harus dibayarkan dan pada 2013 subsidi yang diberikan Rp 16,1 juta atau 34 persen dari total BPIH yang harus dibayarkan," ujar Menteri Agama.

ONH plus berpotensi Naek

ONH plus berpotensi naek
REPUBLIKA.CO.ID,MANADO -- Biaya penyelenggaraan ibadah haji tahun 2013 berpotensi mengalami kenaikan. Tapi, kenaikan biaya haji bagi jamaah haji Indonesia belum dapat dipastikan angkanya.

"Kemungkinan jumlah kenaikan berapa, sedang dihitung," kata Menter Agama Suryadharma Ali kepada Republika, Senin (4/2) malam.

Menurut Menteri Agama, potensi kenaikan biaya haji ini tetap ada. Penyebabnya kenaikan tersebut dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah kecenderungan harga sewa rumah yang naik.

Terlebih ada pembongkaran besar-besaran terhadap gedung-gedung di sekitar Masjidil Haram. Setidaknya 1.700 gedung yang dibongkar. Karena itu, lokasi pemondokan banyak yang mundur ke belakang.

Akibatnya, pemondokan menjadi lebih jauh. Kalaupun dekat, harganya sangat mahal dan tidak terjangkau jamaah haji reguler.

Ada kemungkinan pemondokan mundur ke belakang. Permasalahan lain, pemondokan yang dulu berada di belakang dan murah sekarang menjadi mahal karena ada pembongkaran. "Pemondokan yang dulu ada di depan, sekarang posisinya berada di belakang."

Kementerian Agama tetap menargetkan lokasi pemondokan bagi jamaah haji Indonesia terjauh berada di jarak 2.500 meter dari Masjidil Haram. Artinya, target jarak tidak berubah dibanding tahun penyelenggaraan haji sebelumnya. Suryadharma juga tetap menjanjikan 100 persen jamaah ada di jarak tersebut.

Selain pemondokan, tambah Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini, harga tiket pesawat juga cenderung naik. Namun, pemerintah masih mengupayakan agar kenaikan harga tiket pesawat tidak terlalu signifikan.

Suryadharma menegaskan, kenaikan biaya haji akan ditekan dengan pemanfaatan dana optimalisasi jamaah selama bertahun-tahun. Artinya, sebagian kenaikan tersebut akan disubsidi dengan dana indirect cost, tidak semua menjadi beban jamaah.

"Dengan demikian, kenaikan tersebut bisa berkurang karena disubsidi lewat biaya optimalisasi atau hasil bunga dari simpanan jamaah yang bertahun-tahun," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Anggito Abimanyu mengungkapkan, pihaknya tengah mengupayakan efisiensi biaya penyelenggaraan haji. Salah satunya dengan mengupayakan kontrak pemondokan jangka panjang.

Saat ini, Ditjen PHU sudah menerjunkan tim untuk menjajaki hal tersebut. Bahkan, niat untuk kontrak pemondokan jangka panjang ini juga sudah diumumkan melalui media massa di Arab Saudi.

Sampai saat ini belum ada respons. "Pemerintah sudah siap melakukan kontrak pemondokan jangka panjang maksimal tiga tahun," kata Anggito.

Ia menambahkan, selain rencana pemondokan jangka panjang, pihaknya tengah mengupayakan efisiensi biaya penerbangan. Pasalnya, biaya penerbangan ini menjadi komponen biaya terbesar direct cost. Anggito mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menurunkan biaya penerbangan.

"Unsur sewa kita pastikan, kita minimalkan. Misalnya, Garuda yang sudah membeli pesawat baru pada 2013, ini adalah bentuk penekanan harga. Penurunan harga bahan bakar ke Pertamina," ujarnya.

Anggito menegaskan, efisiensi harga bukan hanya soal murah, namun juga kesesuaian dengan layanan. Sebab, keamanan jamaah menjadi prioritas. Untuk itu, tetap harus memenuhi standar minimal.

Biaya penerbangan diindikasikan menurun karena harga minyak yang turun. Anggito tidak menampik rencana pembelian pesawat untuk lebih menekan biaya, namun hal itu masih dalam rencana jangka panjang.

BPIH tahun 2012
    Embarkasi Aceh: 3.328 dolar AS
    Embarkasi Medan: 3.388 dolar AS
    Embarkasi Padang: 3.404 dolar AS
    Embarkasi Palembang: 3.456 dolar AS
    Embarkasi Jakarta: 3.638 dolar AS
    Embarkasi Solo: 3.617 dolar AS
    Embarkasi Surabaya: 3.738 dolar AS
    Embarkasi Banjarmasin: 3.808 dolar AS
    Embarkasi Balikpapan: 3.819 dolar AS
    Embarkasi Makassar: 3.882 dolar AS
    Embarkasi Lombok: 3.857 dolar AS
Sumber: Kementerian Agama
Kemenag akan meningkatkan Pelayanan Publik

Kemenag akan meningkatkan Pelayanan Publik




Jakarta, 9/8 (Sinhat) - Sekjen Kemenag Bahrul Hayat minta jajaran kementerian tersebut untuk mengoptimalkan pelayanan publik dengan biaya yang terjangkau, efisien, aman dan mudah diakses dengan memanfaatkan infrastruktur jaringan dan sistem informasi guna mewujudkan e-Government.
Di era keterbukaan informasi dewasa ini, sesuai dengan UU Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik,  fungsi dan peran kehumasan sangat penting karena masyarakat punya hak untuk menuntut transparansi kebijakan, penggunaan anggaran dan program yang dilakukan pemerintah, kata Bahrul Hayat dalam sambutannya ketika membuka Rakornas Informasi dan Humas Kementerian Agama di Jakarta, Kamis petang.
Hadir pada Rakornas tersebut para pejabat eselon I dan II dan seluruh Kanwil Kemenag. Rakornas itu sendiri berlangsung 9 - 11 Agustus 2012. Pada kesempatan itu Bahrul mengingatkan bahwa  dewasa ini lingkungan yang cepat berubah menuntut semua untuk menyesuaikan pola pikir dan pola kerja yang efisien, transparan dan akuntabel. Humas dalam organisasi pemerintahan merupakan bagian yang menyatu dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan pembangunan, tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan pelayanan yang prima kepada masyarakat.
Dalam kaitan dengan kerja Humas, ia mengatakan, penguasaan teknologi komunikasi dan informasi -- yang dikenal ICT (Information Communication dan Technology) - merupakan hal mutlak. Melalui ICT dapat memberikan ruang untuk mengorganisasikan segala kegiaan melalui cara baru, inovatif, instant, transparan, akurat dan tepat waktu. Seluruh aktivitas tak dapat lepas dari urusan teknologi inforamsi dan komunikasi. Sebagai contoh penggunaan telepon genggam dengan layar fitur tambahan yang berada pada alat komunikasi tersebut.
Dan penggunaan media kominikasi online seperti wabesite dan portal, menurut Bahrul, merupakan alat (tools) yang ampuh dan efektif untuk menangani terjadinya "current issue", baik yang bersifat positif maupun negatif. Untuk itu, jajaran Kemenag diharapkan mampu secara mandiri mengelola perangkat ICT guna mendukung e-Government pada satuan kerja masing-masing.
Pelaksanaan e-Government, menurut dia, merupakan suatu upaya pemerintah membenahi dan mengembangkan sistem inforamsi pemerintahan yang terintegrasi secara utuh melalui dari tingkat pusat hingga daerah, sehingga semua sistem inforamsi dapat diakses oleh masyarakat secara cepat dan mudah.
Kemenag sendiri, lanjut dia, menempatkan teknologi informasi sebagai "competitive ede", yaitu tidak sekedar pendukung pelayanan publik, tetapi juga sebagai pencipta layanan publik menuju "good governmence" yang berbasis teknologi informasi. Dan dalam lima tahun terakhir kementerian tersebut telah membangun infrastruktur jaringan internet dan internet yang mengintegrasikan sebagai satuan kerja di lingkungan Kemenag pusat dan daerah untuk meminimalisasi terjadinya kesenjangan digital (digital devide) yang masih banyak terjadi pada satker di daerah.
Untuk itu, katanya, ada beberapa hal yang harus dipahami terkait dengan pemanfaatan infrastruktur jaringan dan sistem informasi di Kemenag guna mendukung terwujudnya e-Goverment, yaitu mengintgrasikanseluruh infrastruktur sistem informasi, data (content) dan aplikasi. Arti luas integrasi informasi adalah standarisasi bentuk layanan informasi publik agar mudah diakses masyarakat luas.
Hal lainnya mengintegrasikan infrastruktur jaringan, penggunaan e-mail Kemenag, pemanfaatan LPSE untuk meminimalisir terjadinya KKN antara pengguna dan penyedia barang. Tak kalah penting keamanan jaringan sistem informasi itu sendiri. Untuk itu ia pun berharap para pimpinan satuan kerja dapat berperan aktif menjadi bagian dari agen perubahan (agen of change) dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sedemikian pesat.
Ia mengakui banyak kemajuan yang dicapai dalam peningkatan kualitas kehidupan beragama, pendidikan agama dan keagamaan, penyelenggaraan ibadah haji, kerukunan umat beragama dan tata kelola pemerintahan yang baik belum diketahui masyarakat dengan baik. Sebaliknya, berita miring cepat meluas. Karena itu, Bahrul minta agar Humas selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan Kemenag.
"Pada setiap kegiatan, komunikasi dan publikasi media pada semua unit kerja Kemenag wajib dikoordinasikan dengan unit yang menangani kehumasan," pinta Bahrul Hayat.(ess)
 pengen daftar haji daftar  aja di Travel haji plus primasiadah 
sumber: kemenag 

tips daftar haji kuota depag RI secara online

Daftar Haji plus Kuota Depag RI ?

sidang pembaca sekalian pada kesempatan kali ini saya akan sahring cara mudah daftar haji plus kuota depag RI dengan media online. anda Pernah dengar kabar ribuan jamaah haji plus yang gagal berangkat yang terjadi setiap tahunnya ?. Apa aja sih  sebabnya mereka gagal berangkat haji plus? Sebagian besar sebabnya adalah karena mereka kebanyakan menggunakan jalur non kuota (ilegal) ketika daftar haji plus, artinya tidak melalui jalur DEPAG (departemen agama) serta tidak terdata di pemerintah yang diwakili Depag RI.
Sebagian besar  calon jamaah haji hanya mengetahui daftar haji plus, dan tidak mengetahui hal ini. padahal travel mendaftarkannya lewat jalur non kuota dan tidak mendapatkan surat keterangan setoran awal bpih


daftar haji plus kuota depag RI


surat keterangan setoran awal bpih

Cara Daftar Haji plus Kuota Depag RI

Tips supaya rencana ibadah haji plus kita  lancar sehat dan aman, ada baiknya kita mengetahui bagai mana cara men daftar haji plus kuota depag yang terdata Depag RI caranya yaitu dengan Daftar dan Booking Porsi Haji Plus kuota resmi Depag sebesar $4000 Usd + DP Rp.10.100.000 dan pelunasan sisanya 4 bulan sebelum keberangkatan Haji.
biasanya surat ini diurus travel dan jamaah mendapatkan copy-nya dalam 3-14 hari kerja.Dengan total Biaya per orang :
Sekamar ber-4 = 8250 USD
Sekamar ber-3 = 8750 USD
Sekamar ber-2 = 9250 USD, 
Demikianlah  cara daftar haji plus kuota depag Ri yang benar  semoga tips ini bermanfaat untuk informasi lebih lanjut hubungi kami di http://www.haji-indonesia.com

Adab-Adab Ibadah Haji

 travel haji ONH haji plus haji indonesia
Sebaiknya  bagi calon jamaah haji ONH plus  yang melakukan ibadah haji, untuk memperhatikan adab-adab di bawah ini :

  1. Mengikhlaskan niat di dalam ibadah haji.

Sebaiknya bagi yang ingin melaksankan ibadah haji, sebelum meninggalkan rumahnya, untuk menghadirkan niat bahwa dia keluar melaksanakan ibadah haji hanya karena Allah semata, dengan mengharap pahala dari-Nya, bukan mengharap untuk diberi gelar pak haji, atau agar orang sekitarnya melihat bahwa dirinya pergi haji dan pergi ke Mekkah, sebagaimana hadist Umat bahwasanya nabi shallallahu ‘alahi wassalam bersabda :

 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan" (HR Bukhari dan Muslim )
Artinya barang siapa yang hajinya diniatkan karena Allah dan benar-benar dilaksanakan karena-Nya, maka akan mendapatkan pahala di sisi Allah.

  1. Mempelajari hukum-hukum tentang haji
Seyogyanya bagi yang ingin pergi haji untuk mempelajari hukum-hukum terkait dengan ibadah haji dan serta mengikuti nabi dalam melaksanakan ibadah haji secara keseluruhan, baik perkataan dan perbuatannya. Hal itu sesuai dengan hadist Jabir bahwasanya nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

لِتَأْخُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Hendaknya kalian mengambil manasik haji kalian dariku” (HR. Muslim)
Ini bisa terlaksana dengan mempelajari hukum-hukum terkait dengan haji serta membaca buku yang lebih terperinci. Kemudian memperbanyak di dalam menela’ahnya sehingga dia bisa melaksanakan ibadah haji ini dengan lebih sempurna dan lebih sesuai dengan sunnah. Begitu juga hendaknya dia menghadiri kajian-kajian yang membahas tentang haji, sehingga dari kajian-kajian tersebut akan diketahui hukum-hukum haji dan tata cara pelaksanaannya.
Hendaknya dalam perjalanan hajinya dia mencari  orang-orang yang mulia, mempunyai sopan-santun dan berakhlaq baik, yaitu dengan cara memilih travel yang sudah terkenal profesional, melaksanakan kewajibannya,  membantu orang-orang yang ikut dengannya untuk bisa melaksanakan ibadah haji dan umrah dengan sebaik-baiknya.
Hendaknya mencari seorang penuntut ilmu untuk menyertai rombongan haji, karena amalan-amalan haji tidak cukup hanya berbekal pengetahuan saja, tetapi perlu ada seorang ulama yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengetahui tentang hukum-hukum haji. Jika tidak didapatkan seorang ulama atau penuntut ilmu, maka paling tidak ada orang yang pernah melaksankan haji yang berusaha untuk menyempurnakan ibadah haji ini.
  1. Menghindari dari para penganggur dan orang-orang yang suka bermain-main. Yaitu orang-orang yang jika bergaul dengan mereka akan menyebabkan terjatuh di dalam maksiat, membuang-buang waktu dan banyak ngobrol.
  2. Menghindari dari ahli bid’ah dan khurafat yang sering memalingkan dari beribadah dan berdo’a kepada Allah kepada berdo’a kepada selain-Nya serta lebih memilih untuk mencari bangunan–bangunan dari peninggalan bersejarah untuk mengusap-usapnya dan mengusap-usap Ka’bah serta Maqam Ibrahim yang sering menyebabkan pertengkaran, padahal mestinya mereka menunaikan ibadah haji ini dengan baik
  3. Hendaknya berusaha untuk ekonomis di dalam berbelanja dan jangan berlebih-lebihan serta membebani diri di dalam hidupmu dan dalam perjalanan hajimu. Serta jangan berbangga-bangga dengan kehidupan yang serba hedonis di dalam melaksanakan ibadah haji.
  4. Jauhilah hal-hal yang melengahkan, seperti menonton chanel-chanel Televisi yang berisi hiburan-hiburan, atau mendengarkan musik dan hal-hal lain yang termasuk katagori maksiat.
  5. Berusaha untuk menerapkan akhlaq yang baik selama perjalanan, dan selama pelaksanaan ibadah haji, serta berusaha untuk melawan hawa nafsu untuk mewujudkan hal itu, sehingga temanmu menjadi rela untuk bersamamu. Dan hendaknya anda bisa bersabar untuk menjauhi dari permusuhan dan perkelahian yang sering timbul pada saat melakukan perjalanan dan pada saat terjadinya desak-desakan.
  6. Selalu berdzikir dengan dzikir pagi dan petang, dan berdo’a ketika keluar rumah dan ketika hendak melakukan perjalanan. Hendaknya dia berdo’a ketika keluar rumah, sebagaimana di dalam hadist Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam jika keluar rumah beliau berdo’a :

بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. َاللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ.

“Dengan nama Allah. Aku bertawakkal kepadaNya dan tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu jangan sampai aku sesat atau disesatkan, berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya, berbuat bodoh atau dibodohi”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dengan sanad shahih)
Kemudian dilanjutkan dengan do’a safar :

بسم الله الحمد لله سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ. وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيْهِنَّ: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ.

“Dengan menyebut nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meridhakanMu. Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga.” Apabila kembali, doa di atas dibaca, dan ditambah: “Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Tuhan kami.” (HR. Muslim dari hadist Ibnu Umar)
Jika jalan sedang menanjak hendaknya dia mengucapkan : “ Allahu Akbar ” , jika dia menuruni lembah  atau tempat yang rendah, hendaknya mengucapkan : “ Subhanallah “ , ini berdasarkan hadist Jabir :  

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

“Dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma berkata: "Apabila kami berjalan mendaki (naik), kami bertakbir dan apabila menuruni jalan kami bertasbih” (HR. Bukhari)
 Hendaknya dia jangan lupa untuk selalu berdzikir ketika berpindah-pindah tempat, dan untuk selalu mengulangi hafalan al Qur’annya dan untuk selalu melaksanakan sholat witir walaupun sedang berada di atas kendaran atau di atas pesawat terbang, karena sholat nafilah boleh dilakukan oleh muafir di atas kendaraannya.
  1. Hendaknya dia membawa bekal lebih jika dia termasuk orang yang mampu, sehingga bisa membantu temannya dan berbuat baik kepadanya, sebagaimana di dalam hadist :

والله فِيْ عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أخِيْهِ

 "Sesungguhnya Allah senantiasa menolong hambaNya, selama hamba tersebut menolong saudaranya" (HR. Muslim dari hadist Abu Hurairah )
Hendaknya dia bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan dan orang-orang yang kehabisan bekal perjalanan.
Hendaknya dia menjadikan bekal haji dari hartanya yang terbaik , karena sesungguhnya Allah adalah baik dan tidaklah menerima kecuali yang baik juga.

  1. Hendaknya dia selalu menjaga kewajiban-kewajiban syari’ah. Seorang musafir harus tetap menjaga sholat dan bersuci serta kewajiban-kewajiban yang lain, dan jangan bermalas-malas untuk mengerjakan itu semua tepat pada waktunya.
Dia hendaknya meng-qashar sholat dan menjama’nya jika hal itu dibutuhkan, karena dia sedang melakukan perjalanan atau sedang istirahat, maka membutuhkan untuk menjama’ sholatnya karena kecapaian atau mengantuk.
  1. Hal ini berdasarkan hadist bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda  :

السَّفَرُ قِطْعًةُ مِنَ العَذَابِ يَمْنَعُ اَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ فَاِذَاقَضَى اَحَدُكُمْ نهمته مِنْ سَفَرِهِ فَلْيُعَجِّلْ اِلَى اَهْلِهِ ‎

          “Bepergian itu adalah sepotong dari adzab, (karena) ia menghalangi seseorang daripada kamu tentang makanannya, minumannya dan tidurnya. (Oleh karena itu) apabila salah seorang dari kamu telah menyelesaikan keperluannya dari kepergiannya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya” (HR. Muslim dari hadist Abu Hurairah)
  1. Jika dalam perjalanan pulang dia melewati jalan yang menanjak hendaknya mengucapkan  :

اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, لاَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشِرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ, ايِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ, صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَهَزَمَ اْلاَ حْزَابَ وَحْدَهُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan kecuali Allah, dzat yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami kembali bertaubat serta kami menyembah kepada Tuhan kami , seraya kami memuji-Mu. Allah menetapi pada janji-Nya, menolong hamba-Nya, serta mampu (memporak porandakan) pasukan Ahzab dengan sendiri”.
          Sesungguhnya Nabi saw mengucapkan do’a tersebut dalam perjalanan pulang dari haji atau jihad, sebagaimana dalam hadist Ibnu Umar yang disebutkan Imam Malik dalam kitab al Muwattha’ dalam riwayat Muhammad bin Hasan.
Hendaknya dia jangan mengagetkan keluarganya pada waktu malam, tetapi memberitahu terlebih dahulu tentang waktu kedatangannya, atau hendaknya dia datang pada waktu pagi atau sore saja. Bersabda Nabi shallallahu ‘alahi wassalam :

كَيْ تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ

“Berilah kesempatan kepada keluarga kalian untuk bersiap-siap dan berhias (untuk menyambut kedatangan kalian)." (Hr Bukhari dan Muslim dari hadist Jabir)
Dan hendaknya dia menuju masjid terlebih dahulu jika sudah sampai, untuk melakukan sholat dua reka’at. Karena sesungguhnya perbuatan ini merupakan sunnah nabi  yang pertama kali beliau laksanakan ketika sampai di kotanya.

demikianlah adab-adab dalam berhaji yang sangat penting buat para calon jamaah Travel haji primasaidah dan bila masih belum mengerti anda konsultasi kepada kami atau kepada pembimbing calon jemaah haji sekalian ..

Fardu Haji dan syarat haji


 
Haji-indonesia pada kesempatan hai ini biro haji plus  akan saharing masalah Faru haji dan syarat haji menurut 4 mazhab yaitu hanfi,maliki,Asy-Syafii dan Hmabali.

Fardu Haji

Fardu Haji mesti dikerjakan dan ia adalah penentu bagi ibadat Haji sama ada sah atau tidak serta tidak wajib membayar Dam apabila meninggalkannya. 

Fardu Haji 4, yaitu:
1. Ihram
2. Wukuf di Arafah
3. Tawaf Ifadah
4. Sai antara Safa dan Marwa

Syarat Haji menurut 4 mazhab

Mazhab Hanafi

1.Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir, hajinya tidak sah.
2.Akal, tidak wajib bagi orang gila dan hajinya tidak sah.
3.Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji.
4.Merdeka, tidak wajib haji bagi budak.
5.Sehat jasmani.6.Memiliki bekal dan sarana perjalanan.
7.Perjalanan aman.Tambahan bagi wanita:
1. Harus didampingi suami atau mahramnya.
2. Tidak dalam keadaan iddah, baik karena cerai maupun kematian suami.

Mazhab Maliki

1.Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir dan hajinya tidak sah.
2.Akal, tidak wajib bagi orang gila dan hajinya tidak sah.
3.Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji.
4.Merdeka, tidak wajib haji bagi budak.
5.KemampuanTambahan bagi wanita:
Tidak disyaratkan adanya suami atau mahram tapi boleh melaksanakan haji bila ada teman
yang dianggap aman, baik bagi wanita muda atau tua.

Mazhab  Asy-Syafii

1.Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir, hajinya tidak sah.
2.Merdeka, tidak wajib haji bagi budak.
3.Taklif (sudah mukallaf, yaitu berkewajiban melaksanakan syariat)
4.Kemampuan, dengan syarat sebagai berikut:a.Ada perbekalan, makanan dan lain-lain untuk pergi dan pulang.b.Ada kendaraanc.Perbekalan yang dibawa harus kelebihan dari pembayaran hutang dan biaya keluarga yang ditinggalkan di rumah.d.Dengan kendaraan yang sudah jelas bahwa tidak akan mengalami kesulitan.e.Perjalanan aman.Tambahan untuk wanita:
Ada pendamping yang aman dengan seorang wanita muslimah yang merdeka dan tepercaya

Mazhab Hambali

1.Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir dan hajinya tidak sah.
2.Akal, tidak wajib bagi orang gila, hajinya tidak sah.
3.Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan yang baik dengan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji.
4.Merdeka, tidak wajib haji bagi budak.
5.KemampuanTambahan bagi wanita:
Harus diikuti oleh mahramnya atau orang yang haram menikahinya selamanya


terimakasih telah membaca artikel kami yang berjudul Fardu Haji dan syarat haji  smoga menjadi pengetahuan yang bermanfaat amien
Cara melaksanakan Ibadah 'Umrah

Cara melaksanakan Ibadah 'Umrah

Cara melaksanakan Ibadah 'Umrah

Kali ini Biaya NaikHaji akan menjelaskan mengenai tata cara melaksanakan ibadah Umrah. saya asumsikan anda yang membaca artikel ini adalah calon jamaah umrah yang akan berangkat melaksanakan ibadah umrah. atau juga sedang mencari Paket Jadwal biaya Umrah 2013. berikut ini adalah cara melaksanakan ibadah Umrah 2013:

1. Ketika Anda mencapai stasiun yang ditentukan (Meeqaat), disunnahkan bagi jamaah umrah untuk membersihkan diri, mencuci seluruh tubuh dengan mandi, dan menerapkan parfum ke tubuh Anda tetapi tidak ketika Anda memakai pakaian ihram. Bagi jamaah umrah Pria kemudian harus mengenakan kain putih yang merupakan pakaian ihram. Adapun seorang wanita, dia mungkin mengenakan pakaian apapun dia suka selama mereka tidak menampilkan perhiasan nya, atau membuatnya menyerupai laki-laki, atau menyerupai pakaian wanita kafir.

Setelah itu berniat untuk melakukan umrah dengan mengatakan:"Labbaik Umrah"
kemudian mengucapkan: "Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik laa syariika laka labbaik, Innal Hamda wanni'mata laka walmulku la syariika laka"


Untuk jamaah umrah Pria harus mengucapkan ini dengan suara keras, sementara bagi wanita harus mengucapkannya dengan tenang. Ulangi talbiyah ini sesering mungkin, dan terlibat dalam memuji Allah dan permohonan maaf.

2. Ketika Anda mencapai Makkah, membuat tujuh putaran (Thawaf) di sekitar Ka'bah, dimulai di Batu Hitam
dengan takbir (ucapan Allahu Akbar) 8, Dan berakhir setiap sirkuit di tempat yang sama. Sementara membuat thawaf Anda, Allah memanggil banyak dan membuat permohonan kepada-Nya dalam setiap kata tolong selama mereka dapat diterima di shari'ah. Ini adalah Sunnah ketika Anda mencapai tempat itu antara Yamani Corner dan Batu Hitam di setiap sirkuit untuk mengatakan: “Rabanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatah, wa filAakhirati hasanah, wa qinaa ‘athaaba an-Naar.”


Setelah menyelesaikan rangkaian ketujuh, berdoa dua rakaat di belakang Stasiun Ibraheem (maqaam Ibraheem) jika mungkin, bahkan jika Anda sedikit jauh dari itu. jika tidak berdoa di tempat lain di dalam Masjid Suci. Dalam melakukan thawaf ini, adalah sunnah bagi seorang pria untuk mengekspos nya bahu kanan, yaitu, untuk menempatkan tengah garmen atas ihram nya di bawah lengan kanannya dan kedua berakhir pada nya shoulder. kiri  Hal ini juga sunnah baginya untuk Kemudian Anda harus menghadap Ka'bah, memuji Allah, mengangkat Anda tangan dengan cara yang dilakukan saat melakukan doa, dan kemudian ucapkan takbir (Allahu Akbar) tiga kali. Kemudian membuat permohonan kepada Allah, mengulangi permohonan Anda tiga kali, seperti Sunnah. Lalu katakan:




“Laa ilaaha ill-Allah, wahdahu la shareeka lah. Lahul mulk wa lahul hamd, wa Huwa ‘alaa kulli 
shay`in qadeer. Laa ilaaha ill-Allahu wahdah, anjaza wa’dah, wa nasara ‘abdah, wa hazam al-ahzaaba wahdah.”



Adalah lebih baik untuk mengucapkan doa ini tiga kali, namun tidak ada salahnya dalam mengatakan kurang dari itu.


Anda kemudian turun dari Safaa dan melakukan Sa'y dari 'tujuh kali umrah. Meningkatkan kecepatan Anda antara hijau dua posting, tapi selain berjalan dengan kecepatan normal sebelum dan setelah mereka. Lalu Anda naik Marwah, memuji Allah, dan melakukan seperti yang Anda lakukan di Safaa.

Tidak ada formula khusus yang dibutuhkan atau permohonan untuk penyembah thawaf dan Sa'y dapat memuji Allah, atau berdoalah Nya dalam kata-katanya sendiri, atau ia mungkin membaca bagian dari Qur'an `an, memberikan perhatian khusus terhadap permohonan bahwa Nabi () dibacakan di tempat-tempat tertentu saat melakukan ritus-ritus.

4. Setelah Sa'y, mengakhiri 'Umrah Anda dengan mencukur atau memperpendek rambut Anda. Setelah ini, larangan yang berkaitan dengan negara dari ihram diangkat, dan Anda sekarang dapat melanjutkan normal anda kegiatan.

Jika Anda melakukan haji Tamattu al-', maka adalah lebih baik untuk memperpendek rambut Anda, sehingga Anda meninggalkan cukur rambut untuk tindakan keluar dari ibadah haji.

Jika Anda melakukan haji Tamattu al-'atau Qiraan, pengorbanan domba, satu-tujuh dari unta, atau sepertujuh dari sapi adalah kewajiban bagi Anda. Anda harus menyembelihnya pada hari Pengorbanan (tanggal 10
  Zulhijah). Jika Anda tidak mampu ini berkorban itu, wajib bagi Anda untuk berpuasa sepuluh hari: tiga hari
selama haji dan tujuh setelah kembali ke rumah.



Adalah lebih baik untuk puasa tiga hari sebelum hari 'Arafaat (tanggal 9 Zulhijah). Namun tidak ada yang salah jika Anda cepat tiga hari setelah hari Idul Fitri.



10 out of 10 based on 99 rating. 1 user reviews.